Kini mari kita rasa pembangunan kita yang sekarang. Mari tunduk pada tesis lama Bapak Seni Lukis Indonesia Soedjojono, bahwa lukisan hanyalah jiwa yang nampak. Jadi tata kota dan tata negara juga serupa. Ia adalah jiwa yang nampak dari benak perencananya. Lalu apa yang tampak dari wajah kota-kota di Indonesia ini? Paling menonjol adalah tabrakan ruang dan kepentingan yang mulai tak terkendali.
Kini ruang-ruang publik itu mengalami rongrongan yang luar biasa dari ruang-ruang pribadi. Setiap ceruk kota mulai ditafsirkan hanya dalam satu kemungknan saja: papan reklame. Dan kota-kota, dengan iklim politik yang penuh biaya ini, akan menjadi sapi perah dan harus menjadi kotak iklan raksasa. Apakah ini hanya akan berakibat kekeruhan pandangan? Tidak. Keruh pandangan itu hanyalah hasil dari keruh pemikiran. Inilah yang berbahaya.
Jika cuma soal baliho dan papan iklan itu soal mudah karena ia mudah disingkiran. Tetapi alasan kenapa baliho itu ada di sana itulah yang sulit disingkirkan karena ia berada dalam pikiran. Jadi jika pikiran keliru, sebuah kota juga akan dibangun secara keliru. Soal bagaimana kota yang benar dan yang keliru itu, teman saya seorang insinyur hebat, sanggup menjelaskan dengan baik soal ini. Tetapi untuk merasakan sebuah tata kota yang keliru, cukup menjadi orang awam seperti saya. Entah bagaimana penjelasannya, jika sebuah kota itu benar, tiba-tiba akan merendah kriminalitasnya dan akan meninggi kegembiraan warganya. Tidak butuh sekolah tinggi untuk sanggup menangkap rasa aman dan rasa gembira.
Maka, hasil pembangunan sebuah kota, sesungguhnya hanyalah gambaran rohani pemimpinnya. Ini tak bisa dimanipulasi oleh cara apapun. Kegagalan pembangunan tak bisa ditipu dengan sekadar banyak gedung tinggi dan banyaknya mall. Keberhasilan pembangunan juga tak bisa disembunyikan cuma gara-gara di tak ada pusat grosir raksasa, sepanjang ada kaki-lima yang rapi dan ada suaka burung-burung di taman-taman kota. Kini, pembangunan yang merohani itu rasanya makin sulit dicari karena ukuran keberhasilan pembangunan hanya condong pada panjang, lebar dan tinggi. Maka siapa yang terpanjang, siapa yang terlebar dan siapa yang tertingi itulah yang dianggap juara dan untuk itu juga sudah disediakan museum rekornya.
Dan maraknya baliho-baliho bergambar pas foto itu juga soal mudah jika ia hanya berarti gambar. Tetapi jika ia adalah gambaran keinginan begitu banyak orang menjadi tokoh, itulah persoalan utamanya. Kenapa? Ini jelas kesalahanpahaman. Karena ketokohan itu tidak terletak di dalam gambar. Ketokohan itu ada di dalam kehidupan nyata. Seberapa jauh kedudukan kebaikan seseorang di dalam kenyataan itulah sebenar-benarnya ketokohan. (LX/SM/003/30092011)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar