Our CyberNews. KLIK HERE!!!

Senin, 28 November 2011

Sisi Mistis Kekayaan Alam Trenggalek (Dam Bagong) Oleh : Liu Xian

Berbicara mengenai kekayaan alam kabupaten Trenggalek tercinta ini, tentunya kita sebagai warga tidak melupakan Dam Bagong yang sudah terkenal. Terletak di Dusun Bagong, sebelah selatan Aloon-aloon kabupaten. Di sekitarnya juga terdapat pemakaman umum yang memang sudah lama digunakan. Mengiringi cerita yang bergulir selama ini Dam Bagong menyimpan sejuta misteri. Dari dulu yang katanya ada kera-kera liar hingga tempat untuk mencari pesugihan. Hal ini tidak menyurutkan niat Kanjeng Bekti untuk menyelidiki kebenaran berita tersebut. Alhamdulillah... sedikit banyak ada informasi yang bisa disampaikan melalui Tabloid Prigibeach.com ini.

Kami berusaha "meluruskan" cerita-cerita miring yang beredar seputar Dam Bagong dan Ritual-Ritualnya..
Masyarakat saksikan Ritual

Secara Mediasi Ghaib kami berhasil menemui "penunggu" alam lain (gambar 1). peri yang dibelakang tubuhnya seperti ada ekornya. Untuk penjelasan secara gamblang meski tidak bisa dipakai sebagai acuan, yang penting sudah berusaha dan untuk warga Trenggalek khususnya.

Perlu diketahui oleh khalayak, salah satu tokoh legendaris  di Trenggalek adalah Menak Sopal, salah seorang bupati atau penguasa Trenggalek. Keterangan resmi mengenai Menak Sopal belum banyak ditulis, akan tetapi situs berupa makam dapat dijumpai di dusun Bagong, kelurahan Ngantru, kecamatan Trenggalek. Menak Sopal dikenal sebagai pahlawan bagi kaum tani di Trenggalek, usahanya untuk membangun sebuah dam atau waduk beserta saluran irigasi yang menyertainya berkembang menjadi sebuah legenda yang mengiringi tradisi sedekah bumi yang sampai saat ini dilaksanakan oleh kaum tani di kelurahan Ngantru pada bulan Sela, setiap hari Jum’at Kliwon para petani dari 11 desa di Kecamatan Trenggalek dan Pogalan yang sawahnya mendapat pengairan dari Dam Bagong melaksanakan Upacara Bersih Dam Bagong. Selain sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, upacara tersebut juga untuk memperingati jasa pemrakarsa pembangunan Dam Bagong, yakni Menak Sopal.
Dam Bagong
Dikisahkan pada pertengahan abad XVI, Menak Sopal sangat prihatin melihat sawah para petani selalu kekeringan dan gagal panen. Lalu Beliau mengajak masyarakat menaikkan air Kali Bagong dengan membuat Dam. Namun, kerja keras tersebut selalu gagal – setiap begitu selesai dikerjakan, Dam tersebut runtuh. Setelah melalui beberapa Ritual yang dilakukan, akhirnya Menak Sopal mendapat wangsit. Dari wangsit yang diperoleh, Dam harus diberi tumbal Gajah Putih.Dengan berbagai upaya, Gajah Putih berhasil diperoleh Menak Sopal dan dijadikan tumbal Dam tersebut.

Dari cerita tersebut digambarkan, demi kemaslahatan warga Beliau rela melakukan sesuatu yang mungkin bagi sebagian orang aneh. Seperti Ritual, tumbal dsb... akan tetapi cara tersebut efektif untuk penyelesaian masalah.

Sekarang, dalam setiap peringatan Bersih Dam Bagong dikorbankan seekor kerbau sebagai pengganti Gajah
Gelaran Wayang Kulit di Dam Bagong
Putih.Setelah disembelih, kepala dan daging kerbau tersebut dilempar ke “Kedung Kali Bagong” dan masyarakat beramai-ramai menceburkan diri ke sungai untuk berebut kepala dan daging tersebut (gambar 2 dan gambar 3).  Acara ini dilanjutkan dengan Ruwatan Wayang Kulit (gambar 4) dengan cerita Udan Mintoyo serta ziarah ke makam Menak Sopal yang biasa dikunjungi peziarah setiap hari Jum’at Pon.
Menyaksikan Ritual Jum'at Kliwon
Tentunya bila prosesi adat tersebut dikemas apik akan mendatangkan keuntungan bagi Pemkab dan warga sekitar.contohnya apabila Kerbau yang akan digunakan sebagai Ritual,dikirab terlebih dahulu. Agar lebih banyak orang yang tahu.Toh akhirnya Kerbau yang disembelih tersebut juga diperebutkan oleh warga.Pengembangan sarana dan prasarana yang memadai akan membuat orang yang berkunjung betah dan menikmati setiap acara yang ada di Dam Bagong khususnya (gambar 5) dan Wisata Trenggalek pada umumnya...

Sukses selalu Kabupaten Trenggalek. Amien!

Minggu, 30 Oktober 2011

Mudasir, Superhero from Nglebo

Meski ada sebuah kekecewaan karena tidak menemukan realita seperti yang saya dengar dari Mimie tentang adanya budaya "nyleneh" di Nglebo, tapi setdaknya saat datang ke desa gersang itu beberapa waktu lalu, saya bisa belajar dari seseorang yang tidak berlebihan jika saya katakan luar biasa.

Hidup di Tempuran, Desa Nglebo, Suruh, dengan tanah tak lebih dari 300 meter persegi, sangat terasa sulit. Apalagi, desa itu berada di daerah pegunungan tak subur di Trenggalek, Jawa Timur. Tapi Mudasir (42), bergeming dengan kondisi itu. Ia tetap berusaha menghidupi keluarga dan menjadikan tanah sempit itu, untuk kemaslahatan masyarakat.


Lahan warisan sang mertua itu, dibagi untuk tiga fungsi, tempat tinggal, masjid, dan madrasah. Praktis, hanya tersisa satu petak kecil buat kandang kambing. Tak tersisa lahan untuk menanam singkong dan sayur mayur.

Maka, penopang makan sehari hari, Mudasir ikut menggarap lahan di hutan yang ditanami singkong – bahan baku nasi tiwul yang masih menjadi makanan sehari hari keluarga Mudasir – dan jagung. Meski bagiannya tak terlalu luas, tapi cukup untuk menyambung hidup. Secara ekonomi kehidupannya sulit, tapi ia tak mungkin meninggalkan desa itu, hanya untuk kepentingan pribadinya.

Mudasir, mengawali dakwah di Tempuran sejak 1991, setelah ia menikahi Sari, gadis setempat. Kini dikaruniai dua orang anak. Anak pertamanya, sekolah di SMK Hidayatullah, sekolah swasta kampung yang murah dan terjangkau. Anak kedua masih duduk di bangku SDN Nglebo II. Rumahnya sederhana, cukup untuk sekadar berlindung dari panas dan hujan. Tapi nuansa keberkahan tampak di dalamnya.

Kehadiran Mudasir yang hijrah dari kecamatan Karangan, membawa banyak perubahan di Tempuran. Dusun itu, dulu akrab dengan memuja kuburan, keris, dan berbagai ritual mistik dengan membakar kemenyan. Almarhum mertua Mudasir sendiri, dulu seorang bandar judi dadu. Tapi di akhir usianya, ia menjadi orang tua yang taat sholat lima waktu. Bahkan tanah yang diwariskannya pun, dimanfaatkan untuk aktivitas ibadah dan pendidikan.

Seiring hari, kesadaran beribadah masyarakat di desa itu meningkat. Para orang tua, mulai menyuruh anak-anaknya belajar ngaji di masjid (lebih mirip mushola kecil) samping rumah Mudasir. Mereka, tak lagi membawa anak-anaknya ke orang-orang pintar, untuk ngangsu ilmu mistik dan perdukunan.

Tapi, saat budaya klenik itu sirna, budaya modern yang disuguhkan televisi, menyasar anak-anak desa Nglebo yang lugu. Dampaknya lebih mengerikan. Para remaja mulai akrab dengan narkoba dan mabuk mabukan. Bahkan, tak sedikit anak anak yang berani melawan orang tua. Mereka menuntut dibelikan motor dan handphone. Di kala gema takbir Idul Adha dan Idul Fitri membahana, sekelompok orang bahkan memfasilitasi anak anak muda, untuk mabuk mabukan di dekat Masjid.

Dakwah Mudasir makin berat. Beruntung ia dapat pasokan pendatang baru, seorang ustad yang hijrah dari sebuah Pondok Pesantren di Pasuruhan, bernama Ustad Badar. Kedua guru ngaji itu pun bahu membahu, membendung kerusakan moral yang makin menjadi di desa yang berada di bawah kaki Gunung Linggo itu.

Keduanya sepakat untuk mendirikan Madrasah. Lahan yang kini siap, di pekarangan rumah Mudasir. Meski tak akan punya lahan lagi untuk bercocok tanam, tapi Mudasir mendapat dukungan kakak iparnya, Marli, yang juga menyetujui pemakaian sisa tanah itu. Namun, kendala dana jadi persolan yang sulit. Proposal Ustad Badar ke Departemen Agama, juga belum ada jawaban. Terpaksa, 75 murid yang kini belajar di Madrasah itu, sementara menempati ruang masjid, dengan sekat kelas sehelai kain tipis. Sisanya memanfaatkan serambi.

Kalau sederhana, Rp 15 juta, insya Allah sudah jadi satu madrasah. Tapi ya nggak tahu, tahun kapan bisa ngumpuli dana sebesar itu, lha wong warga sini saja hidupnya pada susah mas”, bisik Mudasir lirih.

Melihat perjuangan Mudasir, sarat teladan yang layak ditiru. Dengan segala kekurangan ekonominya, ia berjuang meralat generasi di desanya. Tak hanya dakwah lisan, tapi ia telah berikan semua yang dimiliki. Sementara kita? Kalau boleh jujur sebagai seorang budayawan, saya sangat minder. (LX)

Mudasir

Jumat, 14 Oktober 2011

Biarkan Hati Bicara: BELAJAR DARI LAMPU MINYAK

Saat listrik sering padam karena nge-trendnya pemadaman bergilir beberapa tahun lalu, penerangan di rumah kami adalah jenis lampu teplok. Di lain tempat, beda lagi namanya. Tapi apapun sebutannya, inilah lampu dengan minyak tanah sebagai bahan bakarnya, dengan tabung kaca sebagai penutup nyala yang jamak digunakan sebelum listrik masuk desa.

Di antara era teplok dan listrik, sempat pula hadir zaman lampu pompa. Lebih terang nyalanya, tetapi lebih rakus minyak, kerenanya lampu ini terbiasa menyala cuma di rumah-rumah orang berpunya. Tetapi tetangga paling kaya sekalipun tidak pernah menyalakan lampu ini semalaman melainkan cukup hingga hingga menjelang tengah malam saja.
Jika lampu ini mati, lampu teplok itu pula yang kembali mengambil peran. Dialah yang bertugas menyaa semalam suntuk. Jika jam tidur sudah tiba, ia dinyalakan, sambil sumbunya dikecilkan. Bagi penggemar tidur di kegelapan, si teplok ini tidak harus dimatikan, tetapi di kacanya cukup diselipkan kertas penghalang. Ia masih terlihat terang, tetapi tidak cukup menyilaukan.
Jadi ada tiga tahapan terang pada diri lampu teplok ini. Membesarkan, mengecilkan dan memberinya penghalang. Kegiatan membesarkan dan mengecilkan itulah yang saya kenang. Malam ketika listrik belum menyala adalah malam yang begitu gelapnya. Tetapi kegelapan yang pekat itu, adalah sekaligus pekat yang ramah pada cahaya. Karena gelapnya, bahkan cahaya kunang-kunang di kejauhan pun terlihat begitu terang. Malah untuk mengerti siapa yang berjalan nun di kejauhan, cukup dilihat dari nyala rokok yang dihisap seseorang. Jika nyala rokok itu berkelebat cepat (dan itu jelas sekali di gelap malam), oo, itu pasti Kang Tukiman, karena memang serba cepat itulah gayanya berjalan. Karenanya, di tenga malam yang gelap dan sepi, nyala lampu teplok pun telah terlihat sangat benderang.
Entah kenapa kegiatan membesarkan, mengecilkan dan memberi penghalang lampu ini di masa lalu, masih lengket hingga sekarang. Bukan cuma lengket, tetapi malah melebar ke lain jurusn, yakni terhubung dengan kemarahan. Terutama kemarahan-kemarahan hidup saya yang ternyata, besar kecilnya, tergantung apakah ia dibesarkan atau dikecilkan.

Pernah sekali Mimie tidak sengaja men-delete tulisan hasil kerja saya selama ber hari-hari, saya lalu membesar dalam kemarahan. Argumentasi saya: Sudah sekian lama saya mengerjakan semua ini dan deadline tinggal beberapa hari dan sekarang terdelete begitu saja. Ini sungguh rasa abai yang luar biasa. Perasaan diabaikan dan diremehkan itulah yang saya bayangkan, dan ia bisa saya ternak sedemikian rupa. Padahal cukup hanya dengan kesalahan yang tidak disengaja, saya memiliki alasan untuk bertengkar dengan orang yang saya cintai habis-habisan.

Tetapi teknologi lampu teplok ini mengingatkan saya, bahwa api di dalamnya bisa dibesarkan bisa dikecilkan. Begitu juga dengan api kemarahan. Karena seluruh alasan saya untuk marah itu, akan selesai cukup dengan obat sederhana yakni, cuma kurang hati-hati, apa susahnya dimaafkan. Jadi semua soal-soal yang tampaknya serba besar itu akan mengecil dengan sendirinya cukup ketika di hadapannya ditambahkan kata ‘’cuma’’. Kini, meskipun listrik sudah jarang sekali padam, saya ingin menyimpan sebuah lampu teplok di rumah saya sebagai kenangan yang mengingatkan saya supaya lebih bersikap lembut terhadap Mimie. (LX/SM/002.BLC.VIII.09)

Your Reflection: THE POWER OF LOVE

Sebuah Kisah Cinta yang luar biasa baru-baru ini muncul dan menyentuh hati orang-orang di seluruh dunia. Kisah tersebut adalah kisah seorang lelaki dan wanita yang usianya lebih tua yang ”kawin lari” untuk hidup bersama dan saling mencintai lebih dari setengah abad.

Seorang lelaki Cina berumur 70 tahun membuat jalan turun dari gunung menyerupai 6000 anak tangga untuk istrinya yang berumur 80 tahun itu kini telah tiada. Mereka tinggal di sebuah gua di gunung itu selama 50 tahun lebih. 50 tahun lalu, Liu Guojiang, seorang pemuda berumur 19 tahun, jatuh cinta kepada seorang janda berumur 29 tahun bernama Xu Chaoqin.
Seperti hanya Romeo dan Juliet, teman-teman dan kerabat mereka tidak menyetujui hubungan mereka karena perbedaan usia dan karena Xu sudah mempunyai anak.

Pada waktu itu, seorang pemuda yang mencintai wanita yang lebih tua dianggap tidak sopan dan tidak dapat diterima masyarakat. Untuk menghindari gosip pasaran, pasangan itu memutuskan untuk tinggal di sebuah gua di Jiangjin County di sebelah selatan Kabupaten Chong Qing.

Pada awalnya, kehidupan mereka sangat susah karena mereka tidak mempunyai apa-apa, tidak ada listrik, dan bahkan tidak mempunyai makanan. Mereka hanya bisa makan rumput dan akar-akaran yang mereka temukan di gunung, dan Liu membuat lampu minyak yang digunakan untuk menerangi kehidupan mereka.

Xu merasa bahwa dia telah membuat Liu jatuh dan berulang-ulang dia mengatakan, “Apakah kamu menyesal?” dan Liu selalu menjawab: ”Selama kita bekerja keras, hidup akan meningkat.”

Pada tahun kedua kehidupan mereka di gunung, Liu mulai membuat ”tangga alami” untuk istrinya, agar istrinya bisa turun gunung dengan mudah. Hal ini dikerjakannya selama lebih dari 50 tahun.

Setengah abad kemudian, pada tahun 2001, sekelompok petualang yang sedang menjelajah hutan, terkejut karena mereka menemukan pasangan tua tersebut dan lebih dari 6000 ”anak tangga”. Liu Ming Sheng, salah satu dari tujuh anaknya mengatakan, ”Orang tua kami begitu saling mencintai. Mereka hidup ’terisolasi’ selama lebih dari 50 tahun dan tidak pernah seharipun mereka terpisah.”

Ayah membuat 6000 lebih tangga dengan tangannya sendiri agar ibu bisa lebih mudah turun gunung, meskipun ibu jarang sekali melakukanya.

Pasangan itu hidup damai selama lebih dari 50 tahun hingga minggu lalu. Liu, yang sekarang berusia 72 tahun, kembali dari kerja sehari-harinya di ladang dan jatuh pingsan. Xu duduk dan berdoa bagi suaminya hingga ia meninggal di pelukannya. Begitu dalam cinta Liu kepada istrinya, hingga saat meninggalnyapun tidak ada seorangpun yang dapat melepaskan tangannya dari istrinya.

”Kamu berjanji akan merawatku, kamu akan selalu bersamaku hingga nanti aku mati, tapi sekarang engkau meninggal sebelum aku, bagaimana aku hidup tanpa kamu?

Xu menghabiskan hari-harinya dengan selalu mengulang kalimat ini dengan sangat lembut sambil menyentuh jemari suaminya yang hitam dengan air mata tertumpah di pipinya.

Pada tahun 2006, kisah mereka menjadi salah satu dari 10 kisah cinta terhebat dari Cina, yang dihimpun oleh Chinese Women Weekly. Pemerintah setempat memutuskan untuk mempersembahkan ”tangga cinta” dan tempat mereka tinggal sebagai sebuah museum agar kisah cinta ini abadi. (LX/SM/002.BLC.VIII.09)

Rabu, 05 Oktober 2011

TOP Artichle

Segala sesuatu tercipta dua kali. Kejadian pertama tercipta di wilayah imajinasi. Jadi. Kota-kota besar, gedung-gedung tinggi, pasar, stadion dan jalan-jalan tol itu pertama kali dibangun dalam wilayah imajinasi. Karenanya, jika imajinasi berkualitas, pembangunan akan otomatis berkualitas. Maka, jika imajinatornya bermutu, imajinasinya akan bermutu. Maka pembangunan lahir yang bermutu, pasti karena berasal dari batin yang bermutu.
Kini mari kita rasa pembangunan kita yang sekarang. Mari tunduk pada tesis lama Bapak Seni Lukis Indonesia Soedjojono, bahwa lukisan hanyalah jiwa yang nampak. Jadi tata kota dan tata negara juga serupa. Ia adalah jiwa yang nampak dari benak perencananya. Lalu apa yang tampak dari wajah kota-kota di Indonesia ini? Paling menonjol adalah tabrakan ruang dan kepentingan yang mulai tak terkendali.
Kini ruang-ruang publik itu mengalami rongrongan yang luar biasa dari ruang-ruang pribadi. Setiap ceruk kota mulai ditafsirkan hanya dalam satu kemungknan saja: papan reklame. Dan kota-kota, dengan iklim politik yang penuh biaya ini, akan menjadi sapi perah dan harus menjadi kotak iklan raksasa. Apakah ini hanya akan berakibat kekeruhan pandangan? Tidak. Keruh pandangan itu hanyalah hasil dari keruh pemikiran. Inilah yang berbahaya.
Jika cuma soal baliho dan papan iklan itu soal mudah karena ia mudah disingkiran. Tetapi alasan kenapa baliho itu ada di sana itulah yang sulit disingkirkan karena ia berada dalam pikiran. Jadi jika pikiran keliru, sebuah kota juga akan dibangun secara keliru. Soal bagaimana kota yang benar dan yang keliru itu, teman saya seorang insinyur hebat, sanggup menjelaskan dengan baik soal ini. Tetapi untuk merasakan sebuah tata kota yang keliru, cukup menjadi orang awam seperti saya. Entah bagaimana penjelasannya, jika sebuah kota itu benar, tiba-tiba akan merendah kriminalitasnya dan akan meninggi kegembiraan warganya. Tidak butuh sekolah tinggi untuk sanggup menangkap rasa aman dan rasa gembira.
Maka, hasil pembangunan sebuah kota, sesungguhnya hanyalah gambaran rohani pemimpinnya. Ini tak bisa dimanipulasi oleh cara apapun. Kegagalan pembangunan tak bisa ditipu dengan sekadar banyak gedung tinggi dan banyaknya mall. Keberhasilan pembangunan juga tak bisa disembunyikan cuma gara-gara di tak ada pusat grosir raksasa, sepanjang ada kaki-lima yang rapi dan ada suaka burung-burung di taman-taman kota. Kini, pembangunan yang merohani itu rasanya makin sulit dicari karena ukuran keberhasilan pembangunan hanya condong pada panjang, lebar dan tinggi. Maka siapa yang terpanjang, siapa yang terlebar dan siapa yang tertingi itulah yang dianggap juara dan untuk itu juga sudah disediakan museum rekornya.
Dan maraknya baliho-baliho bergambar pas foto itu juga soal mudah jika ia hanya berarti gambar. Tetapi jika ia adalah gambaran keinginan begitu banyak orang menjadi tokoh, itulah persoalan utamanya. Kenapa? Ini jelas kesalahanpahaman. Karena ketokohan itu tidak terletak di dalam gambar. Ketokohan itu ada di dalam kehidupan nyata. Seberapa jauh kedudukan kebaikan seseorang di dalam kenyataan itulah sebenar-benarnya ketokohan. (LX/SM/003/30092011)